Zhem; Partner -In Crime

“Ini kartu nama aku, kamu bisa kapan saja menghubungiku. Aku pamit ya” Aku hanya memperhatikannya, ia kecup punggung tanganku dan berjalan menjauh. “Zhem Al-Hakim” Aku membaca namanya dikartu itu, lalu memperhatikan punggungnya menghilang. *** “Hai” Sapa seorang lelaki. “Long time no see, udah lama ya” Ia mengecup ujung pipiku. Aku hanya mengangguk sebagai tanda menjawab….

Tentang Sebuah Pembelaan

Pagi itu, saya bersama kekalutan dini hari. Ia memandangku seakan bertanya “Apakah kamu baik-baik saja?” , jelas saya baik-baik saja, sebelum tubuh saya merespon dengan otomatis atas gencatan yang saya dapatkan. Setelah tangan saya berhasil menampar perempuan itu-lewat tatapan, bahkan saya merasa kurang tanpa menusuknya tepat di jantungnya. Pagi itu, saya bersama kekalutan dini hari….

Tentang Punggung Kepala Kakimu

Setelah pukul lima, ia menepi di ujung tempat yang tak kunjung ramai pengunjung. Membuka sebuah pintu. Gelap. Raut muka yang ia temukan di antaranya. Tertidur pulas rebah di penghujung kasur, seakan mimpi telah merenggut pada detik berikut. Di antara kerlap-kerlip lampu jalan, bising suara teriakan saling membalas, ketukan alas kaki yang kian terburu-buru, rintik kecil…

Tentang Oasis Dini Hari

“Will you merry me?” Aku terbangun di malam hari, hari malas sedunia-ku, diantara draft yang menumpuk, diantara mood yang berantakan, akhir pekan yang padat aktifitas, diantara pekerjaan yang tak kunjung selesai, diantara tugas-tugas kemanusiawian, mereka hadir bersama keheningan. Aku membalikkan badan, Kanaya dan Damian tersenyum ke arahku, seakan semua rencana berjalan mulus, akhir tahun ini,…

Reinhard Yang Bernama Ken; Selimut Tipis Di Musim Dingin

“Kamu tahu seberapa saya ingin menghancurkan ia yang membuat saya selalu berpikir berkali-kali untuk melakukan suatu hal? Akhir-akhir ini semua orang menjadi gila. Bahkan saya ingin bilang saya benar-benar gila mendengar pernyataanmu.” “Gila?” “Huh? Kau mau bilang menurut kbbi gila adalah gangguan saraf? saya tidak perduli dengan kitab ajaibmu itu! Kau mengerti?” Aku mengangguk ragu…

Kehabisan Kata-Kata

Aku ingin menikahimu, Sayya. Menikahi kedua matamu, sepasang telingamu, satu dua lubang hidung pada wajahmu, merasakan rabaanmu,  mengkawinkan kelam(in)mu. Sayya menyenderkan kepalanya pada dadaku, mengobrol dengannya beberapa kali, berulang kali,  reaksi sensitifnya menggeram, air tubuhnya meleleh diantara dadaku. Keesokan harinya Sayya duduk disampingku, memakan bubur, sehabisnya mandi, setelah semalam kami berjalan-jalan sekitar tubuh hutan yang…

Bangunan Pikiran

Teringat beberapa waktu lalu tentang sebuah cerita tentang si pencerita, ia menganggap dirinya Homo sapiens, saya mengangguk saja, seolah saya tak ingin mendengarkan banyak penjelasan atau saya memang setuju, ia terdiam dan malah bertanya, “kamu tak bertanya homo sapiens apa?” Saya kebingungan, bukan karena saya tidak tahu makna homo sapiens tapi karena ia yang malah…