Tentang Oasis Dini Hari

"Will you merry me?" Aku terbangun di malam hari, hari malas sedunia-ku, diantara draft yang menumpuk, diantara mood yang berantakan, akhir pekan yang padat aktifitas, diantara pekerjaan yang tak kunjung selesai, diantara tugas-tugas kemanusiawian, mereka hadir bersama keheningan. Aku membalikkan badan, Kanaya dan Damian tersenyum ke arahku, seakan semua rencana berjalan mulus, akhir tahun ini,... Continue Reading →

Advertisements

Reinhard Yang Bernama Ken; Selimut Tipis Di Musim Dingin

"Kamu tahu seberapa saya ingin menghancurkan ia yang membuat saya selalu berpikir berkali-kali untuk melakukan suatu hal? Akhir-akhir ini semua orang menjadi gila. Bahkan saya ingin bilang saya benar-benar gila mendengar pernyataanmu." "Gila?" "Huh? Kau mau bilang menurut kbbi gila adalah gangguan saraf? saya tidak perduli dengan kitab ajaibmu itu! Kau mengerti?" Aku mengangguk ragu... Continue Reading →

Kehabisan Kata-Kata

Aku ingin menikahimu, Sayya. Menikahi kedua matamu, sepasang telingamu, satu dua lubang hidung pada wajahmu, merasakan rabaanmu,  mengkawinkan kelam(in)mu. Sayya menyenderkan kepalanya pada dadaku, mengobrol dengannya beberapa kali, berulang kali,  reaksi sensitifnya menggeram, air tubuhnya meleleh diantara dadaku. Keesokan harinya Sayya duduk disampingku, memakan bubur, sehabisnya mandi, setelah semalam kami berjalan-jalan sekitar tubuh hutan yang... Continue Reading →

Bangunan Pikiran

Teringat beberapa waktu lalu tentang sebuah cerita tentang si pencerita, ia menganggap dirinya Homo sapiens, saya mengangguk saja, seolah saya tak ingin mendengarkan banyak penjelasan atau saya memang setuju, ia terdiam dan malah bertanya, “kamu tak bertanya homo sapiens apa?” Saya kebingungan, bukan karena saya tidak tahu makna homo sapiens tapi karena ia yang malah... Continue Reading →

Perangkap

Hidup sebuah kedamaian yang tidak untuk berdamai. Ada ribuan janji-janji yang tidak benar-benar memiliki arti janji, omong kosong sang penjamah, harapan-harapan yang tak dikenyangkan, ada yang saling menggugat, juga ada yang saling menyerang. Isi dunia ini semakin membuat perangkap. Hidup ini adalah perangkap. Ia rebah di bibir jurang pesakitan yang dimana Rindu pun merindu. Ia... Continue Reading →

Bayangan Tak Terlihat

Pada keriuhan di ruang mandi, berbunyi mencerca. Berkali-kali. Sementara di ruang lain, nafas menggebu mengikis gelora birahi. Disudut lain, sebuah pena sedang menulis cerita yang dibenci pendendam. Berceritalah jangan bergerak, cukuplah hanya bergerak di ranjangmu dan tampar jika kau berani berbicara, hidup sebercanda itu Saya rasa menunggu pagi lebih lama daripada menunggunya kembali hingga berbulan-bulan... Continue Reading →

Pemakan Segalanya!

  “Barangkali seperti ini perasaanku kepadanya. Tidak pernah berubah meskipun aku telah berusaha meyakinkannya dengan berbagai cara bahwa ia telah menjauh dari kehidupanku. Aku mampu meyakinkan semua orang bahwa aku tidak lagi mencintainya kecuali diriku sendiri”-Aan mansyur. Ia terlahir dari ribuan bualan, ucapan-ucapan pemikat aura juga aurat. Aku ingin menggrogoti sebagian fungsi untuknya berpikir lalu... Continue Reading →

Lebam yang begitu hening.

Jakarta, Oktober di tahun kambing kayu. Beberapa bulan di tahun lalu sebelum ia benar-benar mati, aku masih mengingat saat ia berkata "Kamu berenti kuliah? Anak kamu berhak lahir dari rahim seorang ibu yang cerdas" mungkin kurang lebih ia bertutur seperti itu. Ia bahkan tidak tahu menahu soal itu. Lokasi itu pernah membuatku tersesat menghampirinya. Hingga... Continue Reading →

Titik Bidik

Jakarta, bulan Juni. "Kamu tau apa arti tanda titik dan koma?" "Titik membuatmu berhenti pada satu hati yang kau yakini, sementara kamu bisa lebih leluasa mengapresiasikan koma, ia hanya memberi jeda. Kamu bebas mencintai siapapun." "Untuk itu kau ku namai titik bidik, untuk berhenti pada hatimu" "..." Ia tersenyum, menit kemudian menamparku. "Titik bidik arti... Continue Reading →

WordPress.com.

Up ↑