Sang Demonstran: Soe Hok Gie

sempet kemaren review ulang film yang berlatar belakang mengenang salah satu seorang Aktivis Mahasiswa yg namanya sudah sangat kondang, Soe Hok Gie. Dalam film tersebut ia menulis di buku hariannya :Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau. Begitu tulisan anak muda yang sampai hari ajalnya, tetap tak bisa mengendarai sepeda motor, apalagi nyupir mobil. “Gue cuma bisa naik sepeda, juga pandai nggenjot becak.” tuturnya kala itu.

Soe dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya.

Enam belas Desember tahun 1969 lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.

Emang gak terlalu lama tau dan pengen tau soal demonstran satu ini, sempet gak percaya kalo dia meninggal umur 26 tahun di G. Mahameru. Sempet sok sok excited, karna apapun tentang gunung itu menarik. Apalagi meninggal di gunung, menghembuskan nafas terakhir. What the..

Pertama kali ada demonstran ini tau karna gasengaja ngobrak-ngabrik rak buku sang mantan. Iya dia juga seorang aktivis yang setiap berdebat sama gue, gapernah mau kalah bahkan dia bakalan ngeluarin beberapa dalil. oke gue diem kalo soal itu.

kembali ke Soe Hok Gie.

setelah beberapa saat mereview semua tentang sang demonstran, cap kali membuat hati ngerasa ‘nyes’ semua padangannya serasa sama dengan apa yang gue kedepan kan. Bener-bener sama.

Yang bikin semakin pingin nyari tau tentang dia, waktu engga sengaja di facebook lagi iseng buka beberapa artikel tiba-tiba ada salah satu aku bernama TiongHoa Indonesia, yang mengupas “Riwayat demonstran bernama Soe Hok Gie” kebetulan waktu itu pas banget abis ngerewiew buku sama filmnya, meskipun biografi perjalanan hidupnya agak jauh beda sama filmnya. setelah di klik penjelasan dan ceritanya lebih yang ke simple tapi fokus pada inti cerita. Yang paling di ingat waktu Soe menuliskan catatan harian pada bukunya ”

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Berbahagialah mereka yang mati muda, gatau udahh berapa kali gue berkeinginan mati muda. Karna buat apa hidup terlalu lama dan melumuri hidup dengan dosa-dosa kecil yang semakin lama semakin menggunung. Tapi, mati engga meninggalkan karya juga mati yang sia-sia, Soe meninggal dengan karya yang sudah diterbitkan. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995). Keren. Ngerasa di tampar, keinginan mati muda ter-urungkan. Membaca-baca puisi, terasa memotivasi.

Sebagai penutup ini beberapa puisi Soe Hok Gie yang jadi favorite setiap gue butuh motivasi.

MANDALAWANGI – PANGRANGO

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu aku datang kembali kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan dan aku terima kau dalam keberadaanmu seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada hutanmu adalah misteri segala cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar ‘terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara aku terima ini semua melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” – Soe Hok Gie

SEBUAH TANYA

“akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui apakah kau masih berbicara selembut dahulu? memintaku minum susu dan tidur yang lelap? sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru”

Selasa, 1 April 1969

PESAN

Hari ini aku lihat kembali Wajah-wajah halus yang keras Yang berbicara tentang kemerdekaaan Dan demokrasi Dan bercita-cita Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka yang tanpa tentara mau berperang melawan diktator dan yang tanpa uang mau memberantas korupsi

Kawan-kawan Kuberikan padamu cintaku Dan maukah kau berjabat tangan Selalu dalam hidup ini?

Harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku tegakklah ke langit atau awan mendung kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: