Hujan mati

Tusuklah aku tepat disini, di ulu hati. Agar aku mati meninggalkan si buah hati juga hati yang mati.

Rasa ini telah mati, di alam lain sudah menanti. Si lain hati.

Aku tidak akan membahas hati, karna mati yang ku nanti.

Namun jika mati, sudah pasti hatiku mati.

Jangan salahkan aku bicara soal hati, karna bukan aku yang menakdirkan ada hati juga mati.

Aku tidak akan membenarkan ada bait hati di antara sekian bait ini, seperti dimana hati burung merpati yang sedang jatuh hati pada bunga melati, atau bait cinta seseorang yang kau nanti.

Sungguh itu adalah bait memuakkan yang menyayat hati.

Hujan adalah penyukaan, aku ingin mati bersamanya, agar siapapun menangis karna itu, aku tak melihatnya.

Aku ingin mati dengan hujan karna salah satu keinginanku saat mati adalah menyatu dengan tanah yang aromanya takkan hilang setiap pagi.

Aku ingin mati di kala hujan, karna saat hujan semua doa yang terbaik ada di sana menyamai indahnya pelangi.

Buncit, September 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: