Yogyakarta: Life is a beautiful ride.

Apa yang ada di benak kalian saat mendengar kota Yogyakarta?

Malioboro? gudek? angkringan? kota kesenian dan budaya yang kental? kota pelajar dan ramahnya para penduduk? kedai kopi?  banyak ya. Gue sendiri yang pengetahuan travlingnya sangat amatiran dan cuma denger dari orang-orang yang tinggal disana atau cuma sekedar baca-baca artikel orang-orang yang kerjaannya jalan-jalan kayak  Alexander Thian / Amrazing atau sekedar stalker instagramnya Amrazing ini Jogja emang berhati tenang seperti kata slogannya. Koh Alex salah satu traveler yang gue suka pembawaannya karena asik, lucu, ramah, dan punya kucing dan anjing yang lucu, kayaknya gue sok tau banget tentang dia ya. Bukan, gue bukan secret admirer yang selalu ngikutin dia kemanapun atau yang lebih pait pembantu rumah tangganya, bukan.  Dia sering banget nongol di Periskop-aplikasi live ditwitter, di saat orang-orang udah pada tidur gue ngendusin jam 3 pagi ada notifikasi live Periskop dan ternyata koh Alex lagi curhat di Periskopnya. Astaga.  Jadi ini gue mau bahas koh Alex atau Jogjakarta?!

Dulu salah satu keinginan terbesar gue adalah Kuliah di Universitas Gajah mada (UGM), seperti katanya:

Pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul dan inovatif, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan kemanusiaan dijiwai nilai-nilai budaya”

Ajib! Kayaknya berat banget, seperti merindui namun hanya sebatas omong kosong belaka, tanpa keinginan tanpa usaha orang tersebut. Halah. Tapi karna dulu nyokap hamil lagi dan gak memungkinkan buat anak semata wayangnya ini rela ninggalin orang tuanya, jadilah gue tetap tinggal di Jakarta. Daripada harus tinggal di Jogja, mening tinggal sama keluarga di Bandung katanya. Meskipun engga semudah itu di terima masuk di UGM setidaknya ada kampus-kampus lain yang ada di Jogja, entahlah ada apa di Jogja sehingga sangat tertarik untuk tinggal dan bersekolah di sana. Dari pertama mengenal istilah belajar, mendengarnya bikin malas. Dari taman kanak-kanak hingga lulus sekolah menengah atas tetap sama, tetap males. Bukan males belajar dan meninggalkan kewajiban, gue adalah salah satu orang yang selalu berfikir pake logika. Tentang apapun dan hal bagaimanapun. Kalo pandangan gue udah engga searah dengan orang yang mengajarkan gue, gue lebih baik tidur di kelas, memilih buku bacaan di perpustakaan atau sekedar ngobrol di kantin. Waktu taman kanak-kanak, beberapa kali nyokap ngomelin gue, gue malah tertidur lelap di sofa ruang tamu di banding dengerin nyokap gue ngajarin. Atau guru gue yang dengan lemah lembut mengajarkan beberapa bait huruf arab yang harus sangat gue pahami tapi gue lebih senang ngumpet di balik lemari bersama teman lelaki. Masa kecil yang keterlaluan. Bahkan saat anak-anak kecil dengan usaha menaiki jungkat-jungkit bersama teman-temannya saat olahraga, gue dengan bosannya duduk di pinggiran lapangan memperhatikan mereka, menunggu waktu pulang. Sampai semua ketidaktertarikan itu mengenal cinta. Seperti katanya hidup takkan berpihak pada yang malas, yang tidak berusaha dan hanya memohon. Sebuah materi adalah satu-satunya hal yang bisa membeli kasih sayang, namun di saat materi itu tidak abadi apakah kasih sayang itu tetep tidak ada? Dalam pemahaman gue rasanya keduanya menghilang. Gue sadar, mereka tidak memberikan apapun tentang kasih sayang, mereka bercerai seolah-olah gue hanya seonggok daging yang perlu di jaga tanpa perlu di beri kasih sayang. Mereka hanya memberikan gue segala yang gue mau dengan satu syarat: tuntutan. Mereka menuntut gue untuk masuk sekolah yang bestandar akreditasi yang baik dan nilai yang baik, atau gue akan di diemin sepanjang keluarga besar  berkumpul meskipun itu gapernah terjadi. Dalam hal pendidikan emang jangan meragukan, lihat sendiri apa yang mereka lakukan.

Yogyakarta..

3194534941
Plang Jalan Malioboro

Ke jogja, ke jalan Malioboro selalu identik dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas Jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan, juga melihat plang yang bertuliskan “Jl. Malioboro” Siapa juga yang engga akan gak foto di plang yang terkenal di tengah jalan Malioboro? Jawabannya ada. Gue.

Waktu pertama kali ke Jogjakarta, yang pertama kali gue datengin bukan Malioboro tapi Candi Prambanan. Belanja disana jauh lebih murah di banding belanja di Malioboro, bahkan waktu sampe Malioboro gue lebih baik tidur di penginapan yang gue sewa gaterlalu mahal dan pastinya bersih untuk bermalem sama mandi aja, posisinya engga jauh dari deretan orang-orang jualan, sebelum ke penginapan sempet beli makanan di angkringan. Dengan 10ribu udah bisa dapet dua porsi nasi dan beberapa sate. Iya murah banget, ibu-ibu yang jual juga selalu senyum dan warga di sana saling sapa meskipun engga kenal. Temen-temen gue yang kala itu excited sekali melihat Malioboro, mereka pun berfoto ria di bawah plang Malioboro, sedangkan gue tidur dan saat terbangun mendapati foto-foto mereka yang gatot-gagal total-buat foto di plang jalan Malioboro karna yang kepengen foto disitu engga satu dua orang aja. banyak. Cian.

1385923_689947541015345_178338130_n
531886_689947571015342_1778177974_n              Blur. Ada cowo! itu siapa???

Sumpah ini annoying banget kalo upload foto tapi hasil fotonya malah jelek dan orang-orangnya juga lagi jelek. Oke, skip. Best moment about Jogja, masih sama dengan perjalanan yang di atas gue ke jogja bersama teman-teman. Disana gue juga udah janjian dengan seseorang, seorang teman hidup kala itu yang sudah 2 tahun gue kenal baik, bahkan udah di anggap keluarga. Dia memutuskan untuk menyusul ke Jogja setelah beberapa hari kemudian keberangkatan gue.

Objek pertama gue adalah Candi Prambanan, gue dan temen gue janjian untuk ketemuan di Prambanan dari malem, paginya dia di hubungin engga bisa. Terkirim tapi engga di bales, gue pikir dia belom bangun dan melupakan janjinya ketemu. Setengah jam berlalu, dia masih engga ada kabar, gue pun mulai gelisah dan berfikiran mungkin emang dia kecapean dan lupa. Setengah jam kemudian berlalu begitu cepat, setelah muterin candi Prambanan yang gak dingin itu akhirnya kami pun memutusnya untuk duduk-duduk di salah satu candi, gak lama… dari jauh terlihat ada seseorang yang gak kurus dan gak gendut dengan paras yang udah gue kenal 2 tahun terakhir itu, sebagai teman yang baik gue seharusnnya menjamu dengan baik, nyatanya gue malah ngomel karna dia gak bawaain gue casan kamera, kali itu gue bener-bener kesel dan bete tapi kita udah lama engga ketemu jadi kangen menyelamati ego yang ada. Akhirnya kita foto dan jalan muterin candi Prambanan, lagi.

1380553_689946184348814_854549789_n
Istirahat di salah satu candi
969143_689929891017110_206818042_n
Candi Prambanan dan teman

This is pure my experience, menyatukan sahabat dan seorang teman baru emang bukan perkara mudah. Namun dengan berjalannya waktu mencairlah suasana itu, dan menciptakan suasana hangat di dalamnya juga di pelukannya. Karna waktu sudah mulai memunculkan senja, akhirnya Malioboro adalah objek terakhir yang kita kunjungi. Engga banyak yang gue beli disana, lebih banyak ngobrol dan menikmati kepulan asap kopi tubruk angkringan yang gue beli dengan teman kala itu. Dan teman-teman cewe gue yang lain sibuk menawar belanjaan dan berfoto sana-sini,-cewe memang selalu seperti itu.

Yogyakarta…

Ramahnya para penduduk sudah menjadi satu kesatuan keidentikan warga Jogja tersendiri, seperti tersebar luasnya kedai-kedai kopi di Jogja dari angkringan hingga cafe/kedai kopi di mall. Pusat tujuan kalo udah di Jogja dan ke tugu Jogja adalah angkringan di sebelah stasiun tugu disana akan menemukan beberapa angkringan dan kopi andalan mereka “Kopi Joss”, dengan penyeduhan kopi yang berbeda. Meskipun sedikit berbeda, seperti layaknya kopi yang di roasting dan grinder lebih dulu. Tapi kali ini penyajian yang di suguhin bukan pakai teknik Vietnamdrip, Mokkapot, Aeropress ataupun memakai mesin Espresso. Yang berbeda kali ini, dengan kesederhanaan teknik penyeduhan kopi di lengkapi karna memakai areng. Areng yang sudah di bakar, di masukkan ke dalam gelas kopi yang sudah di seduh. Terdenger suara ‘Josss’ saat memasukan bara pada gelas kopi yang sudah di seduh dengan air teko yang juga di bakar di tungku. Ternyata areng pada kopi tersebut memiliki manfaat sendiri, arang yang udah di bakar di atas suhu kira-kira 250 derajat celcius secara alami akan merubah arang menjadi karbon aktif, yang kita tahu karbon aktif mempunyai prinsip kerja Norit yang ketika masuk kedalam perut dia akan mampu menyerap bahan–bahan racun dan berbahaya yang menyebabkan gangguan pencernaan. Kemudian menyimpannya di dalam permukaan porinya sehingga nantinya keluar bersamaan kotoran kita. Arang yang dicampur dalam segelas Kopi Joss juga bisa mengikat atau mengurangi kadar kafein yang terdapat dalam kopi. Terlalu banyak kafein dalam tubuh juga tidak baik.

Setelah banyak ngobrol sama temen, sembari mengelilingi kota Jogja meskipun gabanyak tempat yang gue kunjungi karna ga banyak waktu juga di kasih kesempatan kesana dan ketemu dia. Sebagai kenang-kenangan dia ngasih baju dan di pake selama kita daritadi muter-muter. Katanya bagus, ada gambar vespanya dan tulisan di bajunya “Life Is A Beautiful Ride” Begitu juga gue berharap mereka dan Jogjakarta selalu menjadi hal indah dalam perjalanan hidup gue. Sesingkat apapun kebersamaan itu.

New Picture
Life is a beautiful ride
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: