Lara Semestamu

Aku mengenalnya, gelas yang bentuknya cembung dan tangkai panjangnya serta aroma isi di dalamnya. Kali ini, aku tersungkur merinduinya. Suatu hari aku mengenalnya, aromanya sengit, aku tak suka aromanya-kataku dulu.

Aku tidak mencintai gelasnya, aku merindukan aromanya-apalagi isinya. Aroma yang dulu tak kusukai, hingga kepada sepi ku renggangkan tubuh menepi bersamanya. Kini ia selalu bersama anganku, mendekap dalam tubuhku.

Puisi tidak selalu identik dengan melankolis, sepotong suasana menciptakan nuansa.Teringat lagu Adam lavine-lost stars, lagu ini sudah ku putar ratusan kali. Entah apa manfaatnya. Membuat tulisan macam ini ada. Sudah ku duga, aku menyesali yang ada.

God, give us the reason youth is wasted on the young

Salah satu bait liriknya membuatku tersadar akan kebuang-buang waktu ini, Pertanyaan yang tuhan sendiri menjawabnya dengan lingkup pengalaman. Aku ingin berbicara pada hilir angin dan bersandar pada hembusannya. Saat ini aku hanya ingin mereka. Aku bungkam atas segala hal, keterulangan yang berbasa-basi. Sial.
Banyak cerita tentang patah hati, banyak pertanyaan yang seharusnya di pertanyakan pada diri sendiri. Mungkin itu karmamu-atau karmaku, di kala waktu lalu. Sudah, jangan selalu bersimbuh lara, waktumu jadi tak terarah.

Detak jam menggelitik, waktunya segera bersiap berutinitas setelah panjangnya tadi malam. “Plak” Ia memukul kening seorang laki-laki disampingnya,-ada nyamuk di dahinya. Karna pagi ini Jakarta tidak sepanas biasanya, bahkan pendingin di kamar hanya bersuhu 23 derajat celcius.
Pagi, mengawali  dengan kopi mungkin lebih dari baik, daripada harus tidur sampai mentari sampai pada puncaknya.
“Aw….Des!”
“Eh, maaf. Ada nyamuk.” Jawab Desti kemudian.
“Ya, sayang. Tapi sakit” Jawabnya manja.
“…” Desti tersenyum. Puanmu nelfonin, mandi sana”
“Iya sayang” Lelaki itu mengecup kening perempuan dihadapanya dan berjalan kearah ruang mandi, Desti hanya tersenyum dan segera membuat kopi.

Membuat komitmen kembali tidak ada lagi di benaknya, benak Desti. Kisah yang lalu memberi pelajaran bahwa berkisah cinta hanya membuang-buang waktu. Persoalan demi persoalan mencoba di sabari-bahkan dihindari, hingga suatu saat dengan hubungan yang sedang baik-baik ia di tinggalkan dengan persoalan yang menghentakan jagat alam hidupnya. Ia di tinggal bertunangan.
God, say another.
Percuma memohon-mohon, ia tetap pada pendirian keluarganya untuk mengiyakan tahap pernikahan. Melupakan mentah-mentah kebersamaan, pengorbanan, pemahaman, dan banyak hal yang tak perlu di perjelaskan.Terbuang sia-sia. Memuakkan. Ya! memuakkan.

Bahkan belajar mencintai hal-hal baru malah menjengkelkan. Pengulangan yang tak pernah ia sukai. Desti, wanita banyak bicara namun lebih bisa sedingin kutub, juga bisa sehangat mentari pagi. Selalu menjamu takdirnya dengan baik, percaya tuhan. Dan apapun yang tuhan berikan. Sesakit apapun perasaannya, sehancur apapun hidupnya. Tuhan yang pegang andil dalam segala urusannya. Menurutnya pengulangan apapun, dan pengenalan bagaimanapun jika berujung kelak perpisahan untuk apa selalu ada pertemuan. Omong kosong. Ia pernah menangis, hanya sebentar. Setelah itu mengikhlaskan. Cukup mudah memang. Kembali percaya kepada tuhan.

Mengenal, membuka hati bahkan menerima hati yang baru bukan perkara mudah untuknya. Ia tidak bisa senyaman bagaimanapun katanya terlalu cepat. Untuk saat ini ia tidak terlintas sedikitpun ingin membuka hati, tidak ada penyebabnya karna masih mengingat kenangan. Jauh dari itu, kesendirian untuk saat ini lebih baik. Menatanya menjadi lebih baik. Membayang-bayangi keseriusan pasangan malah memuakkan, omong kosong. Ia berharap tidak semuanya. Namun terkadang, saat lelah bahkan butuh teman untuk pulang. Ia hanya membingungi dirinya harus kemana, sudah tak ada yang ia percaya. Ia hanya mempercayai yang terdahulu. Itupun juga telah menyakitinya, namun memaafkan terlalu mudah terlakukan. Teman hidup yang sudah menemaninya beberapa tahun terakhir. Hanya itu dan tidak yang lain. Hubungannya tetap baik-baik saja. Bersama dengan masa lalunya.

Saat pulang kerja tiba, Desti melipir ke kedai makanan yang tak jauh dari kos-kosan yang ia tinggali sudah 2 tahun, ia sudah beberapa kali kesana bahkan tak terhitung. Tanpa memesan, kopi Samalanga Aceh sudah ada di hadapannya. Mengepul bersama keluh kesahnya. Kedai terlihat renggang, tak banyak aktifitas di sana. hanya ada sekumpulan orang yang tertawa di pojok tempat. Menertawakan hidup. Desti sibuk menyunting, sesekali ia memanggil pelayannya untuk di buatkan makan atau minta di ambilkan tissue lebih banyak. Tiba-tiba telfon berdering, ia merogoh ke dalam tasnya dengan peralatan yang tak pernah ia rapihi dan tak memperdulikan ada di mana handphonenya. Namun panggilan itu mati dan ia kembali fokus pada laptop di depannya sembari sesekali menghembuskan asap yang selalu berhasil membuatnya tenang dan mengecap sedikit demi sedikit kopinya. Telfon kembali berdering. Tak ada nama. Mungkin tak pernah ada yang di beri nama-kontak-kontak itu. Desti mengangkat sambil mengernyitkan dahi, menandakan penuh tanya siapa yang telah mengganggunya bekerja malam-malam.

“halo…
“Heh perempuan binal! Jangan ikut campur kehidupan gue sama cowok gue!.”
“Siapa ya malem-malem mengganggu sekali?”
“Gausah sok gak tau, jelas kemarin gue mergokin lo jalan sama tunangan gue. Tunangan gue loh ya! Gak ngotak.”
Desti. Senyumnya begitu kecut, kadang ingin tertawa, Ia mulai memutar kembali kejadian kemarin, saat ia pergi dengan lelaki itu, mantan kekasihnya sendiri, tunangan seorang wanita. Ia hanya sekedar makan dan mendengarkan banyak bercerita tentang seorang wanita yang penuh ego yang malam itu tengah memaki-makinya. Lucu sekali.
“Tenang dulu mba, saya jelaskan..”
“Gausah sok-sok polos dan membela diri, dasar wanita penggoda”
“…” Belum sempat menjawab, telfon sudah diputuskan di penelfon, Desti terdiam, meneguk kopinya perlahan dan membakar bibir rokok yang sedari tadi memperhatikannnya.
“Akan baik-baik saja” Batinnya berkata.

Jam sudah menunjukkan pukul 12, bergegas pulang dan tidur mungkin akan lebih baik. Sebelum memasuki kos-kosaan yang tidak terlalu banyak penghuninya, ia melihat ada sebuah buket bunga, Desti mencari-cari siapa yang menaruh bunga sebanyak ini. Setelah masuk ke dalam menaruh tas ia kembali keluar, membuka pintu..
“Happy birthday Desti, happy birthday cantik. Aku sayang kamu”
Bahkan Desti sama sekali tak mengingat ulang tahunnya, tidak ingin mengingat hari lahirnya. Hari dimana kedua orang tuanya meninggalkannya dalam sebuah kecelakaan.

“hmm, lo tuh ngagetin. Gausah gini, kayak anak kecil aja”
“Aku cuma mau nyenengin kamu, kamu gaseneng ya?
“Hmm. Seneng.”
“Gitu aja? Yaudah ayo masuk, gaenak kalo di liat tetangga”
“Lo nginep di sini lagi?” Tanya Desti sambil mengernyitkan dahi.
“aku punya cerita baru…
“hmm, ada lagi…” Jawab Desti merubah senyumnya menjadi kecut, tentunya tidak terlihat lelaki itu. Meskipun hatinya sangat senang, meski di sisi lain ada perempuan lain yang juga tersakiti.

Bulan sudah sampai puncaknya, bintang-bintang hanya satu dua yang menemani. Bercahaya, mereka saling bercahaya dengan hembusan angin yang menyejukkan lara. Melupakkan lara lalu yang hinggap mengkayuh rongga dada yang menyesak. Seperti biasa, beradu argumen saling menyalahkan dan tersadarkan-kadang ingin kembali, mengeluarkan masalahnya di setiap permasalahan yang ada. Desti memperhatikan bagai seorang ibu yang rindu anak semata wayangnya yang ia sangat cintai, sayangnya ia bukan seorang ibu dan lelaki di hadapannya bukan anaknya. Tapi kecintaannya melebihi cintanya pada lelaki lain. Malam ini Desti hanya ingin bersamanya, mengulang keterdahuluan sebelum ada wanita lain yang masuk secara tiba-tiba memisahkannya.

Bercinta dengan malam, menghembuskan nafas menggebu, membakar yang terlinting bak retek-kretek menjadi saksi memperhatikan. Ada hembusan asap yang tersukai, selalu menemani. Mencumbui waktu. Hingga pagi menyatu.

Detak jam menggelitik, waktunya segera bersiap berutinitas setelah panjangnya tadi malam. “Plak” ada nyamuk di dahinya, Desti reflek memukul dahi seseorang yang tertidur pulas di sampingnya berselimut rapat. Karna pagi ini Jakarta tidak sepanas biasanya, bahkan pendingin di kamar hanya bersuhu 23 derajat celcius.

“Aw….Des! sakit sayang”
“Itu tak ada apa-apanya di banding sakitku yang lain, pada organ yang lain” batin Desti.
“Eh, maaf. Ada nyamuk.” Jawab Desti kemudian.
“Ya, sayang. Tapi sakit” Jawabnya manja
“…” Desti tersenyum. “Puanmu nelfonin, mandi sana”
“Iya sayang” Lelaki itu mengecup kening perempuan dihadapanya dan berjalan kearah ruang mandi, Desti hanya tersenyum dan segera menghabiskan kopi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: