Selamat menikmati tubuhku

Detak waktu mencemooh hiruk pikuk hari ini. Melelahkan. Kau begitu nanar akan lelah, tersungkur melihatku. Menyambar kepunyaanku, membuka setiap bagiannya.
Memperhatikan liukannya, membaca lebih dalam isi dalam tubuhku.
Lebih dalam, tersenyum nakal.
Kau membukanya, kau membukaku.
Aku menikmatinya, memperhatikanmu.
Kau jamah lebih khusyuk, sesekali tersenyum terbuai.
Nirwana melukiskan dermaga berwarna merah yang tak kelabu namun melabuhkan ingatan. Ia menganggapku rumah yang membuatnya lupa pulang. Bahkan petang yang selalu ia nanti tak bisa mengganti.
Ia begitu indah, pemurah juga pemarah.
Aku ingin menggodanya dengan ujung yang tak ada ceritanya.
Sampai pada bombasmu, kau sibakkan auratmu tak berhenti berbicara.
Ah, benar saja musim kadang merindukan. Kali ini keringat membasuh setiap lekukan wajahnya. Ia rindu aroma tanah yang membius.
Ia membawaku lebih ke bawah, pada titik lebih arogan, ada hangat sentuhan yang mengkelabui.
Ia kembali ke atas mencari-cari jati ku, lebih dingin dan bertanya siapakah aku.

Ia menghentikan jamahannya, mengambil pena dan secarik kertas:

Kini aku terperangkap hilir yang menyepi juga tak ada tepi, hidup ini kadang indah. Seindah lukisan Monalisa ataupun lukisan Girl a pearl earring yang tak pernah tau siapa wanita yang ada di dalamnya, atau lukisan karya Salvador Dali-Persistence of memory menggambarkan jam yang mencair di alam mimpi, katanya. Aku tak ingin sekedar memimpikan waktu, aku ingin melumatnya habis saling berbagi saliva. Hari ini aku adalah kanvas kosong, bentuk & warna adalah milikku. Bahkan tak terbayangkan jika ada orang lain, nyawa lain yang  memegang kuasku dan menghancurkan keindahan juga mimpi besar. Aku ingin melakukan banyak hal, mungkin sekedar membahagiakan hembusan nafasku lebih dulu. Tunggu, terlalu bakukah kata-kata ini? Terlalu menyentuhkan hidup ini tanpa cinta para kesejatian-kewanitaan? Entahlah. Hanya bersinggah itu memuakkan. Seperti kata kekiniannya Jomblo, aku sendiri masuk kategori itu. Memang kenapa? tak perlu ada yang di cibir hidup ini kita yang tentukan. Memahami pentingnya proses, step by step sampai purna bermuara. Pembodohan adalah mereka yang percaya bahwa cinta merupakan sumber kebahagiaan hingga melupakan kopi-kopi pagi yang menyesap ilusi, botol-botol wine dengan aroma yang menggairahkan, bahkan hingga rentetan menu makanan lainnya yang menyunggingkan dompet. Para pakar pecinta rela tak makan hanya untuk mendampingi kekasihnya. Annoying sekali bukan? haha. Dalam Perspektif beberapa petuah, bahkan sendiri tidak sedikit mengurangi kualitas hidup jika di bandingkan mereka yang memiliki sandaran pulang. Pernahkan kita membayangi rentetan pasangan itu sebagai simbiosis parasitisme? Ah, bahkan aku tak ingin membahasnya lebih jauh. Ia akan kembali, kumpulan kisah itu. Kelak nanti membuktikan mana yang lebih kuat, waktuku atau nafas menggebunya.

Ia merenggangkan tubuh, berdiri di depan bayangan.
memperhatikan bayangannya. Ada sebersit cahaya pada meja kerjanya.
Ia memperhatikan tubuhnya, juga cahaya laptop yang sedari tadi menyala mengobrol.
Ia bergumam, memperhatikanku kembali.

Ia menyukaiku, juga beberapa baitku.

Advertisements

One thought on “Selamat menikmati tubuhku

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: