Botol Bir Dingin Dan Bait Yang Merintih

Ia lahir dari deraian air mata ibunya, ucapan-ucapan seorang wanita pemabuk. Mabuk kata munajat, tanpa kecupan juga kejutan.

Tahun silih berganti, ia bertahan menenun kesunyian. Menyusuri gelap yang menggunung pekat. Ia merenung.

Riuh mengecup ribut, ingatan ini sedekat merekat padanya, gambaran kasih yang terlalu jauh dari dekapan rangkulan lengan.

Ketika ia berada pada titik paling mengharukan, ia harap semesta tidak saling menyalahkan.
Ia menyukai selimut-selimut lembut yang menutupi sebagian kaki hingga pinggulnya.
Ia menyukai rentetan nama keparat-keparat penikmat gelora menjamah, yang memenuhi isi dompetnya.

Desahan yang mereka beli memenuhi libido, mereka juga tidak perduli alasan hidup sesuatu yang mereka jamah, mereka hanya perduli akan kebutuhan, jelas katanya.
Perempuan itu mengelap tetesan di bagian tulang pipinya, memeluk seorang perempuan yang ia kenal dari sebuah pesta.

Kedai terlihat renggang, hanya ada dua perempuan yang mengadu pada semesta yang memutuskan berdiam memperhatikan seperti pemilik kedai.

“Lalu, apa yang ingin kamu lakukan setelah ini Cha?” Pertanyaan salah satu perempuan itu membuat perempuan di hadapannya terlihat kehabisan kata-kata.

Perempuan itu bernama Chantika, benar saja parasnya begitu cantik seperti sepenggal namanya.

“…” Tak ada jawaban apapun yang keluar dari bibir Chantika. Setelah beberapa menit berlalu begitu hening dan dingin. Perempuan itu menjawab “Aku ingin melepas status PSK ini, dan hidup selayaknya sepertimu” Jawabannya membuat perempuan di hadapannya hampir tersedak ludahnya sendiri.

Chantika tertawa, disusul Freya, ada sungkan yang mengumpat. Ada beberapa hal tentang hidup yang tidak pernah terpahami oleh pemahaman siapapun, kecuali pemahaman mereka yang tengah duduk menertawai hidup.

“Ngomong-ngomong gimana tentang botol bir dinginmu itu” Pertanyaan chantika, membuat Freya perempuan di hadapan-nya berubah menjadi seekor rubah yang membiarkan dirinya di tembak mati daripada harus menjawab pertanyaannya.

“…” Perempuan itu hanya tersenyum, bola matanya berputar mengingat banyak hal yang belum ia ceritakan kepada chantika.

***

Raka, seseorang yang kutemui di bawah bulat matahari senja yang akan tenggelam sore itu. Parasnya tidak tampan, hanya manis. Melihat matanya ada rasa hanya ingin memperhatikannya. Senyumnya begitu candu, dan jabatan tangannya begitu hangat. Ada desiran pasir yang mengotori otak detik itu juga, aku ingin memeluknya. Namun semua ego terurungkan pernyataannya yang membuyarkan.

“Aku solat dulu ya udah adzan” Tutur Raka saat duduk di sampingku dan melepaskan ikatan tali sepatunya dan menitipkan untuk aku menjaganya. Membuyarkan lamunanku.

“Aku akan menjaga sepatumu, juga hatimu” Tuturku dalam hati.

Sore menuju malam, terasa semakin syahdu. Banyak orang yang mampir di gedung itu untuk sekedar sholat di masjid yang sudah di sediakan atau mencari angin dan membakar rokok yang membunuh mereka secara perlahan. Aku dan Raka duduk di pinggir gedung pencakar langit, menceritakan banyak kisah tentang banyak hal. Lalu beberapa anak di bawah usia beramai-ramai membawa bola dan bermain di parkiran gedung.

Tiga bulan, waktu bersama yang tak berujung berkomitmen. Entah cinta yang tak harus memiliki atau memiliki segalanya kecuali cinta. Kami saling mencintai tapi kami tak pernah berani untuk membuka masing-masing lembaran untuk di tulis kembali. Setidaknya aku tau dia juga mencintaiku dari berbagai cara yang ia tunjukkan. Hingga akhirnya waktu memutuskan kami untuk saling meninggalkan masing-masing perasaan dan cinta yang sudah menggembara ke penjuru aksara perasaan. Seperti katanya entah sampai kapan aku bisa menerima berstatus kembali, mungkin tidak sama sekali. Akupun menghormati keputusan Raka saat itu. Aku menikmati kebersamaan itu bersamanya.

Setelah beberapa bulan tak ada komunikasi yang begitu sakral dari dua perasaan yang pernah merasakan rajutan kisah yang syahdu tanpa status, akhirnya kami di pertemukan kembali dalam perasaan dan sikap yang berbeda. Ya, kami tidak mudah berbicara rindu, tidak mudah lagi mencium punggung jemari, atau sekedar bilang aku sayang kamu dengan mudahnya. Semua keterbatasan itu ada saat aku memutuskan untuk menemui raka. Lelaki yang mempunyai kepribadian dingin dan tidak memperdulikan apapun, seperti sikapnya kala itu. Pahit. Jalinan cinta yang seketika kandas ini begitu pahit. Seperti bir yang ku minum saat Raka selalu mampir dalam pikiranku. Aku selalu menganggapnya botol bir dingin yang begitu pahit.

Hembusan angin mencengkram dada, saat aku mulai membuka pembicaraan-pembicaraan ringan hingga pada pertanyaan konyol seputar hal-hal yang tak perlu di pertanyakan.

“Raka, apa kita akan ketemu lagi? ” Raka seperti biasa terdiam dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku tak habis akal untuk menjalin percakapan yang memecah keheningan kala itu.

“Rak..a” Panggilku pendek.

“Ya..” Jawabnya tak kalah pendek.

“Sebelum matahari tenggelam, apa keinginan kamu?” Tanyaku tiba-tiba.

“…” Raka masih terdiam
Aku menunggu jawabnya agak lama kemudian tersentak atas jawabannya juga.

“Melupakanmu..” Jawab raka dengan mimik muka yang datar, masih melihat ke matahari tenggelam. aku menengok ke arahmya memperhatikannya dan membuang pandangan ke arah lain.

“… Dan langgeng dengan kekasihku. ” Jawaban Raka selanjutnya juga membuat bentuk hatiku seketika itu menjadi tak jelas apa bentuknya. Aku menggigit bibir keras, merasakan sakit yang tidak setimpal dengan apa yang aku rasakan.

“Kekasih?” Aku bertanya seolah-olah aku biasa saja, mataku tetap memandang ke arah lain. Namun aku beranikan menengok ke arahnya. Aku berharap raka salah berbicara, aku anggap raka hanya meninggalkan episode serial naruto dan kakashi. Ku harap begitu.

“Iya, kekasih baruku. Teman kerjaku. Dia sangat baik dan sepertinya mencintaiku. Dia melakukan apa saja untukku, bahkan mengerjakan tugas kantorku ” Raka mencoba menjelaskan, agar aku tak banyak bertanya lagi. Ia telah memahamiku, tapi tidak dengan hatiku.

“Bagus dong, semoga kamu langgeng. ” Entah dari mana aku belajar berbohong, seperti bukan aku yang menjawabnya. Tapi sudahlah, itu sudah terjawab.

Raka hanya mengangguk. Aku mencoba memegang tangannya, jari-jemari yang sudah ku kenal meski singkat. Lentik jari yang ku ingini sejak lama, bahkan jauh sebelum mengenalnya.

Rasa-rasanya aku ingin meninggalkannya untuk menangis meraung-raung agar hatiku lega, namun aku urungkan saat ia menggenggam tanganku tak sengaja dan bercerita tentang apa yang telah kita lewati dulu. Raka tetap mengingat hal-hal kecil yang pernah kita lakukan, tentang banyak cerita yang kita perdebatkan juga tentang ciuman pertama itu. Ya, ciuman pertama untuk kami. Aku dan raka, persetan tentang yang lain.

Aku benar-benar mengurungkan hal-hal yang membuatku terlihat lemah dalam pandangannya, aku termasuk seorang wanita yang besar gengsi. Bahkan untuk meluapkan perasaanku saat itu, ku anggap lain waktu saja. Aku memperhatikan punggungnya menjauh hingga hilang, setelah itu aku baru menitikan ribuan tetes air yang memenuhi wajahku. Aku benar-benar hancur kala itu.

***

Chantika menopang tangannya memperhatikan Freya, membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman memahami cerita. Ia mulai gusar akan cerita yang tak pernah Freya ceritakan padanya, ia mulai mengeluarkan mimik kasihan namun penuh tanya. Chantika mula mendekati posisi duduk merangkul Freya.

“Sejak kapan kamu selemah ini soal perasaan, ini bukan kamu. Kamu bukan orang yang segampang ini jatuh cinta” Belum selesai menceritakan semua hal tentang lelaki itu, Chantika memotong cerita dan berkomentar dengan terheran-heran memperhatikan perempuan yang tengah di rangkulnya.

Tak ada jawaban sama sekali dari Freya, ia hanya memperhatikan ke arah lain, menuangkan minuman ke gelas yang sudah di isi kembali es, ia mulai mabuk. Pikirannya melambung ke banyak pertanyaan-pertanyaan yang membelit otaknya tanpa tahu satupun jawaban. Mungkinkah waktu yang akan menjawab? Freya tersenyum. Senyumannya begitu palsu.

Chantika mulai mengerti, bukan banyak pertanyaan yang harusnya ia lontarkan saat itu juga. Mungkin ia butuh waktu menenangkan perasaan hatinya. Ia butuh banyak waktu sendiri dan teman yang mendengarkan cerita-ceritanya.

“Lalu, apa yang ingin kamu lakukan setelah ini Frey?” Tanya Chantika akhirnya.

“…” Freya terdiam, ia memutar bola matanya dan memainkan bibirnya yang agak tipis. Kemudian menjawab “Aku ingin melepas perasaan ini, dan hidup menjadi PSK sepertimu saja rasanya” Kemudian mereka berdua tertawa tak henti hingga waktu melumat habis malam setelah menjamah senja yang mulai habis waktu dan menyumpah serapah-kan seluruh tentang hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: