Titik Bidik

Jakarta, bulan Juni.

“Kamu tau apa arti tanda titik dan koma?”

“Titik membuatmu berhenti pada satu hati yang kau yakini, sementara kamu bisa lebih leluasa mengapresiasikan koma, ia hanya memberi jeda. Kamu bebas mencintai siapapun.”

“Untuk itu kau ku namai titik bidik, untuk berhenti pada hatimu”

“…” Ia tersenyum, menit kemudian menamparku.

“Titik bidik arti dalam hidupmu adalah seseorang yang dengan gampangnya bisa kau cumbu, tanpa status, tanpa perasaan bahkan cinta”

“…” Kini giliran aku yang tersenyum sungkan. Aku mendekatkan tubuhku, menenangkan juga menghangatkan tubuhnya dengan pelukan. Ia tentu menyukainya.

Aku tak menjawab pernyataannya. Bahkan aku sendiri sering bertanya pada diriku sendiri. “Terluka kah mereka? Atau, malah menikmati semesta yang sepersekian detik mengguyur birahi?”

Setelah itu, aku meninggalkan mereka. Banyak harapan yang mereka tinggalkan, aku tak perduli.

Aku pernah berharap, terlalu tinggi. Salahnya, aku berharap dengan manusia. Setiap manusia yang ku anggap selalu  bernaluri seperti anjing yang jauh lebih rendah dari anjing. Begitulah kata mba Djenar.

Manusia yang detik ini ku harapkan bahkan tidak pernah bisa ku jadikan titik bidik, aku lebih ingin duduk bersamanya. Tanpa bisa menyentuhnya. Aku lebih ingin melindunginya, bukan menidurinya.

Entah mengapa aku menemukan titik yang lain ada padanya, titik yang bukan untuk membidik. Titik yang memaksaku membisu, mencintai dalam  kisruh. Bertemu denganmu, seketika aku tidak mengenal diriku.

Aku lebih suka berdiam diri dengan perasaanku, daripada  memilikimu. Kamu pernah termakan omongan manisku, aku menampar diriku sendiri. Sebodoh itu  mengkhilafimu dengan ucapkan.  Setelah itu, aku merasakan hal yang tak pernah ku pahami. Berbahagia.

Kamu pernah memanggilku sayang, mengungkapkan kata rindu yang ku percaya. Sepersekian detik aku berubah menjadi keledai yang membiarkan diriku termakan ucapan manismu. Ya! aku membiarkannya.

Kamu pernah menyentuh lembut telapak tanganku, mencium punggungnya. Aku rasa hal itu biasa, tapi tidak, ciuman itu begitu hangat, begitu tulus terasa.

Kamu pernah bilang mencintaiku, meyakinkanku, membuka sedikit hatiku, memastikan untuk aku menunggu. Setelah itu, kamu akan kembali. Entah kamu ingin pergi kemana, mungkin ke hati yang lain.

Kamu pernah berbohong, namun aku memaklumi. Aku terlalu percaya, bukankah ada kalanya kita bisa berbohong demi kebaikan. Apapun tentangmu adalah kebaikan. Aku percaya. Sebodoh itu.

Dan banyak pernah lainnya yang ku sadari memang memuakkan-sesungguhnya, setelah kamu menamparku dengan status bersama yang lain di hari perayaanku. Bahkan kamu sendiri mengucapkannya. Terima kasih.

Jakarta, bulan July.

Kemarau panjang, panas berkumandang. Aku membiarkan diriku rebah di dada kasur bersenandung sendiri, akhir-akhir ini beranjak keluar itu malah membosankan. Aku lebih suka membaca pesan-pesanmu yang terdahulu, setelah beberapa minggu tak ada kabar, setela  itu ku buat coretan dengan ribuan kata di atas kertas yang selalu kamu suka.

“Keluar yuk, ada acara workshop buku” Tiba-tiba pesan singkat masuk ke handphone yang tak pernah aku cek sudah berminggu-minggu. Bahkan aku pernah lupa membawanya.

Juga ada beberapa pesan yang tak penah ku balas, aku tidak berselera dan menyeleraimu saja. Siapa aku? Siapa kita? Aku tak paham.

Jakarta, bulan Agustus.

Berbagai perayaan pernah ku hadiri, mereka terlihat menikmati. Aku duduk di sebuah sofa, memegang gelas dan terdiam. Entah mengapa detik itu aku begitu kecewa. Aku mengingat satu perayaan tanpamu.

Mereka yang pernah bersamaku hanya sebatas nama, setelah itu menghilang. Tapi tidak denganmu, kamu berjiwa, kamu menetap. Kamu titik dimana aku (pernah) mencintaimu sampai menjadi bisu. Membiarkanmu pergi tanpa menyuruhmu menetap.

“Kamu dimana?” Aku hanya menuliskan itu di barisan kolom beranda sosial media yang mungkin hanya berharap kamu ada disana.

Tetapi tak ada jawaban. Aku mencoba menelan ingin.

Jakarta, bulan September.

“Heh saiko lo ya! Jangan pergi! Lo gatau jalan, gausah nekat. Percuma lo berharep sama dia! gue yang sayang sama lo” Aku terdiam saat sedang berjalan di tengah hujan samar di teriaki seseorang dari belakang. Namun aku tak memperdulikannya. Aku tetap berjalan masuk ke dalam taksi yang ku hentikan dan meninggalkannya terguyur hujan.

Aku pernah se-jahat itu, dan aku tahu diri setelah di jahati lebih dari itu. Olehmu.

“Dimana lagi? Dimana lagi harus aku mencari tahu tentang kabarmu?” Tuturku dalam hati.

Aku bukan seseorang yang dapat mengungkapkan dan menceritakan banyak hal tentang yang aku rasakan. Bahkan kepada ibuku sendiri.

Seketika aku melupakan titik bidik, ia tidak lebih menarik dari mencari tahu tentangmu. Sadarilah itu, kamu lebih dari itu.

‘Andai mencintaimu aku main-main, aku tak mungkin sesakit ini.’ seonggok daging pernah bersenandung dalam musikalisasi puisinya. Dan aku pernah termotivasi karna baitnya.

Jakarta, bulan Oktober.

“Kalo kamu punya satu keinginan sebelum matahari tenggelam, kamu berkeinginan apa?” Tanyaku.

“Langgeng” Ucapan itu membuatku tercekat. “… dengan kekasihku” Brak! Aku benar-benar hancur. Hati dan pikiranku.

Aku menengok ke arahmu, seketika itu juga aku menjadi lumpuh. Begitu sungkan. Titik bisu yang selalu ku tunggu pulangnya, selalu ku tunggu datangnya, selalu ku tunggu adanya, selalu menjadi alasanku menunggu karna ku yakin kamu akan pulang, nyatanya hanya bersinggah.

Terkadang kamu datang, namun secepat itu kembali pergi. Datang lagi, pergi lagi. Apa cinta sebercanda itu?

“Wah iya, semoga langgeng. Aamiin” Aku menyamarkan cara bicaraku di kata Aamiin yang berartikan; YaAllah, kabulkan permintaan kami. Ku harap tuhan menyamarkan permintaanku juga.

Seketika itu aku terluka, pikiranku terluka. Aku selalu berpikir kamu sedang banyak hal yang di kerjakan, berpikir setiap saatnya sedang apa kamu jauh dari kabarmu. Selalu berpikir kembalinya kamu dan senyum tipismu berbicara kamu merindukanku.

Ternyata aku salah.

Jakarta, bulan November

“Mart terima kasih sudah menemani. Seharusnya kamu gaperlu ada di sini. Diatas meja dan di dalam gelasku. Maafkan aku ginjal, aku menikmati mart. Tidak biasanya aku seperti ini. Terima kasih kamu.”

“Buddy, tidurlah di rongga paru-paruku. Bersemayamlah kamu dalam tubuhku, beristirahatlah sejenak di aliran darahku.”

“Warnamu sering orang memanggilnya green. Warna yang berartikan pepohonan menyegarkan namun melambungkan pikiranku ke berbagai hal”

“Dentumanmu membuat suasana menjadi berubah, tidak dengan hatiku.”

“Terima kasih blast, terima kasih yang terakhir ku ucapkan pada kamu yang selalu menghempaskan masalah-masalahku. Dinginmu menyegarkan dua bibirku yang menghimpitmu.

“Makasih sayang untuk malam ini”

Aku sekacau itu.

Jakarta, bulan Desember.

kembali pergilah.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: