Lebam yang begitu hening.

Jakarta, Oktober di tahun kambing kayu.

Beberapa bulan di tahun lalu sebelum ia benar-benar mati, aku masih mengingat saat ia berkata “Kamu berenti kuliah? Anak kamu berhak lahir dari rahim seorang ibu yang cerdas” mungkin kurang lebih ia bertutur seperti itu.

Ia bahkan tidak tahu menahu soal itu. Lokasi itu pernah membuatku tersesat menghampirinya. Hingga akhirnya ada seseorang yang menolongku, lebih tepatnya mengantarkanku ke tempat yang lebih aman. Lokasi itu kurasa tidak begitu jauh dari tempatnya menuntut ilmu. Dekat dengannya ku rasa lebih baik, meski aku tak pernah melihatnya saat sedang berada disana. Jangan bilang aku wanita gila. Jangan bilang juga aku sakit jiwa.

Tepat pukul tiga jam kantor membubarkan karyawan-karyawannya, aku mengiriminya pesan singkat “Aku ada acara di daerah dekat dengan kampusmu, pulang bareng ya” tak ada 5 menit pesan itu di balas olehnya “oke, aku tunggu.” Ya! Aku berbohong tentang itu, selama seharian aku mencari tahu bagaimana aku bisa sampai kesana. Nekat? Sepertinya. Demi bertemu dengannya? Tidak juga, aku hanya ingin tahu caranya berusaha meski memang tujuanku hanya dia.

Setengah dari perjalanan tlah kulalui dengan mantap, ku rasa ini akan baik-baik saja. Seperti kata seorang wanita di peta virtual yang bersuara lantang menunjukkan jalan seraya mendukung awal kebohongan ini. Aku terasa lebih berdebar setelah tempat yang ku lewati tak pernah ku lihat atau ku lewati sebelumnya, ku lihat ada beberapa pesan darinya, aku sengaja tak membukanya dan menembak banyak pertanyaan kepada supir angkutan umum yang mengantarkanku.

Layaknya Tour Guide, iya memberitahu dengan senang hati disertai candaan-candaan yang menurutku lebih seperti kerupuk yang di goreng kering; garing. Aku baru membuka pesan singkat darinya saat supir yang mengantarkanku mengatakan, “udah setengah jalan, setengah jalan lagi sampai ya neng” Aku membuka pesannya sambil memaparkan senyum tipis, terlihat ada beberapa pesan ku baca yang paling bawah, “hati-hati” ku baca yang atasnya lagi “maaf” dan yang paling atas “Sepertinya aku harus pulang duluan, temanku kecelakaan” Aku menghela nafas panjang. Aku tahu ia berbohong.

Aku membiarkan supir itu melajukan mobilnya tanpa banyak bertanya kembali, membalas pesannya “Oh gitu, yaudah kamu hati-hati”. Entah aku dimana. Aku duduk di sebuah lambang kepercayaan umat Kristiani yang ada ditengah-tengah taman kota, berbincang dengan beberapa orang dan seorang anak kecil yang juga sedang duduk sendiri seraya berdoa.

Setelah selesai, iya tersenyum ramah kepadaku, merangkulku dengan matanya. Dan aku mencoba bertanya duduk di sampingnya“Ibumu mana?” “Dirumah kak” “Kamu memulung?” “Seperti yang kaka lihat” “Kamu udah mandi?” Entah kenapa pertanyaan itu selalu dengan leluasa ku tanyaan kepada orang-orang yang ku rasa nyaman denganku. “Umm, maksudnya kamu udah mandi? aku gerah banget belum mandi mau ganti baju” Iya tak menjawab, matanya melirik ke arah sebuah Papper Bag yang ku bawa. Ada jeda yang begitu panjang.

“Ukuran baju kamu apa?” tanyaku. Iya tak menjawab, aku memperhatikannya sibuk dengan jari-jarinya. Ah, tidak, jarinya tak lentik. “Nih aku ada baju, kayaknyasi sedikit kegedean. Tapi siapa tau bagus kalau kamu pakai” “kenapa kaka engga pakai buat kaka sendiri aja?” “ini lebih bagus di pakai buat cowo” “Kenapa kaka beli kalau begitu?” “…Banyak kali kau becakap dik, kau pakailah saja” Aku menjawabnya dengan bahasa yang membuatnya tertawa sungkan. Aku melihatnya memakai baju itu, kebetulan taman sedang sepi hanya ada beberapa orang yang memadu kasih asik mengobrol dan beberapa tukang dagang yang juga asik mengobrol dengan pedagang lain.

“Te Em empat dua kosong” Iya membaca tulisan di bajunya sambil berdiri mengernyitkan dahi, aku hanya tersenyum. “Makasih kak” “Iya, nih bawa sama Papper Bagnya sekalian” Setelah ia merapihkan baju-bajunya, ia memanggilku yang sedang sibuk dengan telfon yang sedari tadi berbunyi memanggil, dan di pastikan dari beberapa orang yang panik mencariku, namun tak ku angkat karna suasana hati yang sedang tidak ingin di ganggu. “Kak ini buat aku juga?” Anak itu mengangkat sebuat kotak persegi panjang agak tipis dengan covernya yang menunjukkan liukan seorang suster bertuliskan made in Indonesia-Tante Merry. Dengan cepat ku ambil dan masukkan ke dalam tas “Oiya lupa” “apaan tuh kak?” “Pingin tau aja deh anak kecil”.

Aku mengangkat telfon yang mungkin sudah puluhan kali menelfon. Mendengar jerit pertanyaan yang di lontarkan orang di sebrang sana, menyegerakan aku segera pergi dari tempat itu dan ke arah tempatnya berada. Namun ku urungkan, aku lebih menunggunya mengantarkan aku ke sebuah penginapan di daerah antah berantah. Meski telah mengantarkanku ke penginapan dan memastikan aku makan sebelum tidur, akhirnya ia kembali pergi. Sudah ditinggal pulang, lagi-lagi di tinggal pergi.

***

“Yang nganterin kamu Zamil?”

Iya mengangguk

Aku sengaja memotong cerita Freya, air mukanya sudah terbawa arus kisahnya sendiri. Iya tak pernah bisa mengontrol suasana hatinya jika menceritakan Raka. Seseorang yang pernah sebelumnya ia ceritakan. Setiap aku tak sengaja menanyakan soal Raka, ia selalu menunjukkan raut muka yang seakan berbicara “ku mohon jangan mengingatkanku, ia sudah tenang di jurang nelangsa” setelah itu aku akan mencari alasan-alasan lain meninggalkan pembahasan yang ku mulai atau memotong ceritanya seperti yang ku lakukan barusan.

Lalu ia membuka beberapa artikel di handponenya, ia membaca sambil mengernyitkan dahi berbicara sendiri, “Bagaimana bisa seseorang pernah saling mencintai akan berbahagia melihat orang yang di cintainya berbahagia dengan orang lain. Itu jelas mitos! mustahil katanya.” Aku tersenyum dan melirik judul artikel yang sedang ia baca “Melihat Dia Bahagia Dengan Yang Lain Kamu Juga Akan Bahagia? Mitos atau Fakta?” Aku tahu ia tak pernah perduli mengenai cinta atau hubungan-hubungannya yang pernah ia jalani. Untuk itu aku tak bisa berkomentar apapun tentang Freya menyikapi kisahnya dengan Raka. Ia seperti bukan Freya yang ku kenal sebagai seorang perempuan yang tidak perduli apapun tentang siapapun yang merugikan dirinya.

Freya menaruh handphonenya dekat gelas, beralih ke botol-botol dan menuangkan sedikit demi sedikit sampai penuh pada bibir gelas, meneguknya habis seperti malam yang gemulai menjentikan awan-awan hitam yang mulai menitikan air. Hujan. Malam itu aku terjebak hujan bersama Freya. Ia memegang tanganku erat, menyeimbangi dirinya mengambil tissue di depan meja. Kurasa ia mabuk, ah! Freya selalu begitu. Sudah hampir setahun ini ia lebih sering mabuk-mabukan di banding menulis atau menyibukkan diri membaca buku.

Ia lebih sering keluar rumah, mencari udara atau mengobrol dengan pemilik kedai atau menelfonku untuk menyusul. Buku-bukunya tak pernah di sentuhnya, tulisannya berantakan, pekerjaan di kantornya tak ia perdulikan. Sebatas melihat, mengerjakan bila suasana hatinya sedang lumayan untuk berinteraksi dengan kata, atau ia lebih memilih tidur di sofa kantor. Kebetulan salah satu pelangganku satu kantor dengannya. Jadi mudah sekali mengetahui tingkahnya.

“Tik, apa aku harus mengiklaskan?”Freya membuatku agak tersentak. Bukan karna pertanyaannya, lebih kepada saat ia berdiri membakar rokoknya dan tiba-tiba dengan cepat menengok ke arahku menggerakkan tangannya kedepan mukaku. Untung saja bara rokok itu tak mengenai wajah mulusku ini, kalau sampai kena, sudah ku tampar pipinya. Itu membuat pelangganku akan berpikir dua kali untuk menghampiriku. Sial.

“Mengikhlaskan?” Tanyaku lagi.

“…” Freya duduk terdiam mengangguk, mematikan rokoknya yang baru ia nyalakan.

Hujan masih membasahi pekarangan kedai, kami memutuskan untuk membelah hujan. Setelah aku membayar, terlihat Freya sudah asyik dengan air hujan yang membasahi tubuhnya berputar-putar tidak memperdulikan para pelanggan yang ramai memperhatikan. Berputar-putar lagi, mencoba menggenggam hujan, memperhatikan agak lama ke arah langit sampai aku menyusul mendekatinya.

Freya menggenggam tanganku halus, matanya memerah, aku tahu ia sedang menangis. Ia tak pernah ingin orang tahu ia menangis, namun aku tahu ia sedang menangis. Sering kali aku melihatnya menangis tanpa bersuara saat beranjak tidur tanpa ia tahu aku mengitip di balik tanganku yang menutupi wajah.

Ada lebam yang begitu hening, pada organ dekat diagfragma yang begitu sering.
Adakah seseorang yang memberi biru dengan hening,
juga seseorang yang merayakan duka hingga pening.

Di antara rintihan ranting yang terdengar nyaring, juga risau yang begitu membatin.

Aku membalas genggamannya, membuang jauh pandangan dari matanya.

“Tik! Jangan tinggalin aku ya hehe” Tutur Freya saat berjalan beriringan kearah parkiran.

“Kamu kenapa deh? Mabuk banget emang?” Tanyaku

“Dasar bodoh! Orang mabuk di tanya, kamu mabuk ya?”

“Bodo amat Frey! Jadi Tanya-tanyaan gitu” Jawabku tak perduli.

“Dia tuh yang mabuk…” Tunjuk Freya ke arah pasangan yang sedang melewati tangga menurun di parkiran, sedang berciuman.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, membukakkan pintu mobil untuk Freya, membenarkan posisi duduknya dan seraya berbicara “Kamu juga dulu pernah cerita, kamu pernah cium Raka di tangga parkiran Frey” ku rasa Freya tidak mendengarku berbicara, ia sudah tidak sadarkan diri. Terlalu banyak minum. Bodoh.

semoga raka tak pernah membaca cerita ini.
Advertisements

One thought on “Lebam yang begitu hening.

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: