Bangunan Pikiran

Teringat beberapa waktu lalu tentang sebuah cerita tentang si pencerita, ia menganggap dirinya Homo sapiens, saya mengangguk saja, seolah saya tak ingin mendengarkan banyak penjelasan atau saya memang setuju, ia terdiam dan malah bertanya, “kamu tak bertanya homo sapiens apa?” Saya kebingungan, bukan karena saya tidak tahu makna homo sapiens tapi karena ia yang malah balik bertanya dan terheran-heran.

“Beberapa orang malas berpikir, juga membaca dan dengan mudahnya membulatkan maksudnya sendiri, mereka mengartikan apa yang mereka dengar, mereka tak mengerti makna” Saya merubah posisi duduk saya, dan mengangguk sedapatnya. “Jadi kamu tak menganggap saya homo?” Kemudian saya sedikit tertawa, menjawab sekenanya “Bapak bisa aja..” Kemudian saya menengguk kopi yang ia hidangkan, kembali saya mendengarkan cerita-ceritanya. Dan berulang kali saya menyukainya.

Saya pulang, bersandar karena kelelahan-berperang dengan kewajiban, dalam kesunyian malam, saya lebih leluasa berpikir. Saya teringat tentang obrolan saya dengan diri saya sendiri tentang sebuah pilihan, saya pernah bertanya kepada diri saya, jika hidup ini adalah sebuah pilihan, apa tidak memilih pun adalah sebuah pilihan? Saya tidak pernah sepenuhnya memilih, apapun tentang itu, bahkan memilih rasa. Saya tidak bisa mencintai sepenuhnya, kepada pacar, bahkan keluarga sekalipun. Rasa cinta saya tak bisa diutarakan, tidak bisa diperlihatkan atau memang saya tidak begitu nyaman dalam hidup ini untuk mencintai sesuatu. Bahkan saya pernah berkeinginan keras untuk mencari rumah di luar rumah, sayangnya saat itu saya begitu egois untuk pergi dan mencari rumah yang saya maksudkan, saya tak pernah menyadari bahwa rumah itu tak pernah jauh dari saya mencari. Bahkan dalam rumah itu saya menemukan rumah yang saya cari-cari selama ini.

“Tak ada rumah yang lebih aman daripada rahim ibu. Didetik pertama kita meluncur keluar, perjudian hidup ini dimulai. Taruhanmu adalah rasa percaya yang kau lego satu persatu demi sesuatu yang bernama cinta. Aku penjudi yang buruk. Aku tak tahu kapan harus berhenti dan menahan diri. Ketika cinta besinar gemilang menyilaukan mata, kalang kabut aku serahkan semua yang ku miliki” Tutur Zara saat saya mencoba untuk memahami isi kerisauan dalam tulisannya. Seorang lakon perempuan dalam buku Partikel.

Zara terus mengingatkan saya tentang saya dimasa lalu, saya tak pernah bisa mengontrol maksud hati saya, saya harus mendapatkan yang saya mau dan mereka dengan senang hati memberinya, saya tak menghargai usaha. Hidup saya abu-abu, buram dan tak ada yang bisa di katakan baik. Saya tak pernah menghargai perjalanan. Dan kegagalan cinta yang menahun menjadi ajang saya semakin jadi menyumpah-serapah tentang itu. Saya kapok mendalami seseorang.

Hingga saat terjatuh saya, saya menyamaratakan semuanya, saya tak percaya siapapun bahkan kepada diri saya sendiri, namun ia tetap mendengarkan, sebagaimana saya bercerita sepanjang hari panjang lebar, menderngarkan saya sepanjang malam berkata kasar pada yang saya rasakan, kenyamanan itu dengan senang hati membangun saya yang sudah runtuh, hingga saat bangunan itu telah menjadi pondasi, terputus koneksi saya atasnya, saya menanggung jawabkan diri saya padanya, bangunan yang belum selesai, alasan saya menghapus keinginan saya memiliki rumah diluar rumah. Dengannya saya menghargai usaha, dengannya saya mengerti bahwa Tuhan menciptakan pertanyaan dengan jawabannnya sepaket.

Saya membungkus bangunan itu hati-hati, berusaha membangunnya sendiri, mencari akal bagaimana bangunan itu tidak saya bangun sendiri, kadang saya mengajak beberapa orang membangunnya, namun tak sesuai, akhirnya bangunan itu kembali runtuh, meski masih berpondasi. Dan saya terus berusaha untuk itu.

Hidup ini kadang begitu lucu, saat saya sudah memutuskan berhenti, seakan semua usaha berbuah keberpihakan, seakan pertanyaan bagaimana saya seharusnya bersikap, memutuskan berakhir adalah jawabannya. Dan berbicara soal pondasi hidup saya, saya hanya tidak ada kemauan membangun, padahal bangunan itu milik saya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: