Kehabisan Kata-Kata

Aku ingin menikahimu, Sayya.

Menikahi kedua matamu, sepasang telingamu, satu dua lubang hidung pada wajahmu, merasakan rabaanmu,  mengkawinkan kelam(in)mu.

Sayya menyenderkan kepalanya pada dadaku, mengobrol dengannya beberapa kali, berulang kali,  reaksi sensitifnya menggeram, air tubuhnya meleleh diantara dadaku.

Keesokan harinya Sayya duduk disampingku, memakan bubur, sehabisnya mandi, setelah semalam kami berjalan-jalan sekitar tubuh hutan yang tak pernah kami berdua paham jalannya seperti apa, kami hanya menikmati jalannya.

Sayya membuka jalan itu, saat mangkok buburnya merajuk ia tinggalkan, Sayya semakin bergelora dikedua matanya. Aku menghela nafas, setelah bergelut dengannya untuk tidak masuk ke hutan itu berkali-kali, bahkan terus menerus. Aku kehabisan kata-kata. Kemudian aku tersadar, aku benar kehabisan kata-kata untuk melanjutkan tulisan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: