Reinhard Yang Bernama Ken; Selimut Tipis Di Musim Dingin

“Kamu tahu seberapa saya ingin menghancurkan ia yang membuat saya selalu berpikir berkali-kali untuk melakukan suatu hal? Akhir-akhir ini semua orang menjadi gila. Bahkan saya ingin bilang saya benar-benar gila mendengar pernyataanmu.”

“Gila?”

“Huh? Kau mau bilang menurut kbbi gila adalah gangguan saraf? saya tidak perduli dengan kitab ajaibmu itu! Kau mengerti?”

Aku mengangguk ragu pada matanya, melihat punggungnya yang  hilang dibalik tembok. Seingin apa aku bersamanya, aku tak ingin ia tahu aku ingin bersamanya. Ia terlalu emosional untuk berbicara benar dan sejujurnya. Rumah khayalan ini telah menjebakku bertahun-tahun bersama banyak pemikiran tentang apa yang mereka lakukan. Dan sayangnya, aku masih belum bisa berhenti sampai disini, meski dengan apa yang aku mampu saat ini, mungkin malah mengganggu setiap apa yang ingin aku lakukan. Ya, aku mulai menyukai penjara ini. Penjara yang ku buat sendiri, penjara yang menemani semua keraguan ini, penjara berlapis masa mereka, mereka berikan semua dengan senang hati, aku tersenyum memperhatikan mereka dan aku mulai bosan akan hal itu. Dan…..

“Yora!!!!!!!”

“Ya, Ken, aku datang.”

Dan…Ya, aku membiarkannya. Aku membiarkan hidup ini dengan segala lapisan brengsek ini berjalan tidak semestinya. Aku harus segera menghampirinya, atau seluruh badanku akan memar, -atau memang itu yang aku inginkan.

Ia bisa menjadi serigala yang mencakar sana-sini, memakan sesuka hati, raja dalam ekosistemnya, dan secepat mungkin ia akan merubahnya menjadi kelinci lucu dan menggemaskan, yang dengan kelembutannya ia melahapku habis-habisan, dan aku terpesona dengannya, dengan kelembutannya yang begitu membuatku tak bisa mengatakan tidak untuk hal selucu itu. Meski ia adalah siluman serigala yang menyamar dan bisa kapan saja berubah menjadi apapun yang ia inginkan.

“Terima kasih sayang”

Setelah itu, ia akan berlutut mengucap betapa menakjubkannya hamparkan aku yang ia puja-puja setelah ia melahap dan menggonggong di hadapanku. Ia berubah menjadi kelinci lucu setelah ia menggempurku dengan ketidak salahan yang tidak aku lakukan.

Bukan, bukan cinta yang salah. Tulisan ini yang salah.

Jakarta, 6 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: