Kehabisan Kata-Kata

Aku ingin menikahimu, Sayya. Menikahi kedua matamu, sepasang telingamu, satu dua lubang hidung pada wajahmu, merasakan rabaanmu,  mengkawinkan kelam(in)mu. Sayya menyenderkan kepalanya pada dadaku, mengobrol dengannya beberapa kali, berulang kali,  reaksi sensitifnya menggeram, air tubuhnya meleleh diantara dadaku. Keesokan harinya Sayya duduk disampingku, memakan bubur, sehabisnya mandi, setelah semalam kami berjalan-jalan sekitar tubuh hutan yang... Continue Reading →

Bayangan Tak Terlihat

Pada keriuhan di ruang mandi, berbunyi mencerca. Berkali-kali. Sementara di ruang lain, nafas menggebu mengikis gelora birahi. Disudut lain, sebuah pena sedang menulis cerita yang dibenci pendendam. Berceritalah jangan bergerak, cukuplah hanya bergerak di ranjangmu dan tampar jika kau berani berbicara, hidup sebercanda itu Saya rasa menunggu pagi lebih lama daripada menunggunya kembali hingga berbulan-bulan... Continue Reading →

Lebam yang begitu hening.

Jakarta, Oktober di tahun kambing kayu. Beberapa bulan di tahun lalu sebelum ia benar-benar mati, aku masih mengingat saat ia berkata "Kamu berenti kuliah? Anak kamu berhak lahir dari rahim seorang ibu yang cerdas" mungkin kurang lebih ia bertutur seperti itu. Ia bahkan tidak tahu menahu soal itu. Lokasi itu pernah membuatku tersesat menghampirinya. Hingga... Continue Reading →

Titik Bidik

Jakarta, bulan Juni. "Kamu tau apa arti tanda titik dan koma?" "Titik membuatmu berhenti pada satu hati yang kau yakini, sementara kamu bisa lebih leluasa mengapresiasikan koma, ia hanya memberi jeda. Kamu bebas mencintai siapapun." "Untuk itu kau ku namai titik bidik, untuk berhenti pada hatimu" "..." Ia tersenyum, menit kemudian menamparku. "Titik bidik arti... Continue Reading →

Botol Bir Dingin Dan Bait Yang Merintih

Ia lahir dari deraian air mata ibunya, ucapan-ucapan seorang wanita pemabuk. Mabuk kata munajat, tanpa kecupan juga kejutan. Tahun silih berganti, ia bertahan menenun kesunyian. Menyusuri gelap yang menggunung pekat. Ia merenung. Riuh mengecup ribut, ingatan ini sedekat merekat padanya, gambaran kasih yang terlalu jauh dari dekapan rangkulan lengan. Ketika ia berada pada titik paling... Continue Reading →

Selamat menikmati tubuhku

Detak waktu mencemooh hiruk pikuk hari ini. Melelahkan. Kau begitu nanar akan lelah, tersungkur melihatku. Menyambar kepunyaanku, membuka setiap bagiannya. Memperhatikan liukannya, membaca lebih dalam isi dalam tubuhku. Lebih dalam, tersenyum nakal. Kau membukanya, kau membukaku. Aku menikmatinya, memperhatikanmu. Kau jamah lebih khusyuk, sesekali tersenyum terbuai. Nirwana melukiskan dermaga berwarna merah yang tak kelabu namun... Continue Reading →

Lara Semestamu

Aku mengenalnya, gelas yang bentuknya cembung dan tangkai panjangnya serta aroma isi di dalamnya. Kali ini, aku tersungkur merinduinya. Suatu hari aku mengenalnya, aromanya sengit, aku tak suka aromanya-kataku dulu. Aku tidak mencintai gelasnya, aku merindukan aromanya-apalagi isinya. Aroma yang dulu tak kusukai, hingga kepada sepi ku renggangkan tubuh menepi bersamanya. Kini ia selalu bersama... Continue Reading →

Hujan mati

Tusuklah aku tepat disini, di ulu hati. Agar aku mati meninggalkan si buah hati juga hati yang mati. Rasa ini telah mati, di alam lain sudah menanti. Si lain hati. Aku tidak akan membahas hati, karna mati yang ku nanti. Namun jika mati, sudah pasti hatiku mati. Jangan salahkan aku bicara soal hati, karna bukan... Continue Reading →

Bercumbu pilu

Ketika kau mencintai, kau membuang banyak waktu. Ada rasa rindu pada waktu terdahulu, sebelum mengenalkan kau padanya lebih dulu. Sudah puaskah kau diamkan waktu? Aku memperhatikanmu terbangun dengan nafas dan detak jantung yang terdengar saling mendului. Tergambar jelas sejak dulu kau diami mereka, alam yang sering kau kulum. Kini kau di bawa waktu, menangis tak... Continue Reading →

WordPress.com.

Up ↑